HARIANRIAU.CO – TNI telah mengerahkan pasukannya untuk Operasi Siaga Tempur di Natuna, termasuk mengerahkan sejumlah KRI dan pesawat militernya. Operasi militer tersebut merupakan respons dari dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh China.
Namun, menurut Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, pihaknya akan mencari solusi terbaik atas masalah tersebut. Selain itu, ia juga menegaskan, tidak akan menambah pasukan di wilayah itu.
"Kita tentunya gini, kita masing masing ada sikap. Kita harus cari satu solusi baik lah di ujungnya. Saya kira ada solusi baik. Kita selesaikan dengan baik ya, bagaimanapun China negara sahabat," kata Prabowo di Kantor Menko Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, Jumat (3/1).
"Enggak, enggak ada (penambahan pasukan)," imbuhnya.
Insiden ini berawal saat kapal pencari ikan China dilaporkan telah masuk ke Perairan Natuna dan mencuri ikan. Kapal Coast Guard China juga masuk ke Perairan Natuna dan membuat Kemlu RI protes ke China.
Selain itu, nama Laut China Selatan kerap dilekatkan kepada klaim nine-dash line milik China yang melampaui wilayah beberapa negara. Nine-dash line merupakan wilayah perairan yang diklaim China mulai dari Provinsi Hainan hingga Laut Natuna.
Kemlu RI sebelumnya siaran persnya pada Rabu (1/1), menyampaikan soal bantahan atas klaim China. Indonesia kembali menegaskan penolakannya terhadap klaim historis China di Perairan Natuna. Menurutnya, klaim China adalah klaim sepihak (unilateral).
"Klaim historis RRT atas ZEEI dengan alasan bahwa para nelayan China telah lama beraktivitas di perairan dimaksud bersifat unilateral, tidak memiliki dasar hukum dan tidak pernah diakui oleh UNCLOS 1982," kata Kemlu dalam siaran pers.
sumber: kumparan.com

